Premium Leaderboard (970x90) - Wisata

Nasi Kepal Onigiri: Persembahan Dewa Hingga Bekal Prajurit

Reporter: Riedha Aghniya Adriyana - Editor: Riedha Aghniya Adriyana

Selasa, 12 Januari 2021 | 15:41 WIB

210112154448-nasi-.jpg

Source: uncutrecipes.com

Nasi kepal onigiri.*

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID - KULINER Jepang dikenal dengan kuliner dengan bumbu minimalis yang mengangkat kesegaran bahan baku yang digunakan. Seperti pada Onigiri, nasi kepal khas Jepang dengan isian. Meski dengan bumbu minimalis, sajian satu ini tetap nikmat.

Onigiri adalah sebutan dalam bahasa Jepang untuk nasi kepal berbentuk segitiga. Onigiri dibuat ketika nasi masih panas. Bentuknya beragam. Penganan ini dapat ditemui dengan berbentuk bola, bulat, atau segitiga.

Persebaran nasi kepal ini cukup luas. Di Hong Kong, Cina, Taiwan, hingga Korea juga mengenal kudapan ini. Di Korea, Onigiri dikenal juga sebagai jumeok bap atau samgak gimbap yang artinya nasi kepal atau nasi segitiga rumput laut.

Menurut cerita Onigiri terinspirasi dari mochi beras yang dikukus kemudian dikepal dan dipadatkan, konon sajian ini ditemukan sejak abad 1 SM. Dahulu Onigiri dijadikan bekal bagi para prajurit dan samurai jaman perang antar klan di Jepang. Para samurai menyimpan bola nasi yang dibungkus dengan selubung bambu sebagai bekal makan siang yang praktis dan cepat selama perang.

Selain Onigiri dikenal juga Omusubi, keduanya merupakan jenis makanan berupa nasi yang kemudian dikepal dan dipadatkan dengan tangan. Ada cerita yang menjelaskan asal muasal sajian ini tercipta, konon ada sebuah legenda para dewa di Jepang yakni dewa Takamimusubi dan Kamimusubi. Diceritakan bahwa orang Jepang pada zaman dahulu mendewakan gunung dan mereka memakan nasi yang dikepal menjadi bentuk gunung dengan harapan mereka akan diberkahi oleh kekuatan sang dewa.

Onigiri atau nasi kepal khas Jepang. Source: japantrips.co

Penjelasan lain menyebutkan, pada Zaman Heian para bangsawan menyebut nasi kepal ini dengan sebutan omusubi, sedangkan rakyat biasa menyebutnya dengan Onigiri. Selain itu, ada juga penjelasan yang menyebutkan bahwa dalam kata Onigiri mengandung makna memotong iblis atau membuang aura jahat atau kemalangan sedangkan dalam kata omusubi terkandung makna menghubungkan takdir atau membangun pertemuan atau hubungan kemanusiaan yang baik.

Pada periode Kamakura hingga periode Edo awal, Onigiri dikonsumsi sebagai makanan cepat saji. Pada saat itu Onigiri ini hanya bola nasi yang dibumbui dengan garam. Nori tidak tersedia secara luas hingga era Genroku di pertengahan Edo, ketika pertanian nori dan pembuatannya menjadi lembaran tersebar luas di Jepang.

Sejarah Onigiri bisa dikulik dari buku harian Murasaki Shikibu Nikki dari Murasaki Shikibu. Buku ini ditulis pada sekitar abad kesebelas. Di dalam catatannya, Murasaki menuliskan tentang orang yang memakan bola-bola nasi. Tulisan tersebut menceritakan tentang orang-orang yang menyantap bola nasi atau tonjiki pada saat piknik makan siang.

Sementara, bukti fisik Onigiri di masa lalu ditemukan pada 1987. Pada tahun tersebut, ditemukan gumpalan butiran nasi yang sudah terkarbonasi. Diduga, gumpalan nasi tersebut berasal dari zaman Yayoi. Bukti fisik itu ditemukan pada saat penggalian arkeologi yang dilakukan di Prefektur Ishikawa.

Onigiri pun berevolusi dengan orang-orang menambahkan topping maupun isian seperti ikan salmon, ikan tuna, rumput laut (kombu), hingga telur ikan dan masih banyak lainnya. Onigiri punya banyak sebutan tergantung pada daerah maupun toko. Biasanya bagian luar Onigiri diberi lapisan nori.

Tak hanya bentuk, isian Onigiri pun beragam. Onigiri berisi tuna, ayam, dan isian lainnya. Namun, ada juga Onigiri yang dibuat tanpa diberi isian. Ciri khas dari makanan khas Jepang ini adalah terdapat tambahan rumput laut di bagian luarnya sehingga memberikan rasa gurih.

Saat ini, makanan ini menjadi salah satu jenis makanan yang tidak bisa dilewatkan bagi orang Jepang, baik saat sedang terburu-buru, saat perut merasa sedikit lapar dan butuh makanan pengisi dengan porsi ringan.*

Download Aplikasi