Premium Leaderboard (970x90) - News

Bermutasi, Waspadai 7 Gejala Baru Penderita Covid-19!

Reporter: Hariyawan - Editor: Hariyawan

Senin, 21 September 2020 | 13:11 WIB

200921131940-Bermu.png

Source: Pixabay

Ilustrasi – Waspadalah. Covid-19 kini kian bermutasi, sehingga banyak ciri baru yang mungkin belum Anda kenali.

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID, Jakarta – Masyarakat sudah mengetahui gejala umum infeksi virus corona atau Covid-19. Gejalanya, seperti munculnya batuk kering, demam, sesak napas, sakit otot, sakit tenggorokan, hingga kehilangan kemampuan indra penciuman.

Ada pula gejala dalam bentuk ruam kulit yang aneh, tanda dari kuku kaki, bahkan konjungtivis atau mata merah.

Namun gejalanya kini tidak hanya itu. Covid-19 kini kian bermutasi, sehingga banyak ciri baru yang mungkin belum Anda kenali. Bahkan pasien yang baru-baru ini terinfeksi Sars Cov 2 ini pun merasakannya.

Kini pasien yang terkena corona merasakan gejala yang beragam, bahkan ada yang tidak sama seperti dulu. Bahkan orang yang terkena Covid-19 tidak mengalami gejala sama sekali atau disebut dengan Orang Tanpa Gejala (OTG). Kondisi seperti ini sangat berbahaya, karena tanpa disadari dapat menularkan virus corona ke orang lain, baik itu lewat droplets atau sentuhan yang pasti tidak disadari.

Kita pun dibuat mesti waspada lagi, terhadap penularan virus ini. Untuk itu, ada baiknya kita mengenali ciri-ciri saat terkena corona Covid-19.

1. “Silent Hypoxia”

Sebagian dokter yang sudah berpengalaman puluhan tahun, dibuat terkejut dengan gejala aneh ini.

Dalam sebuah opini yang ditulis untuk New York Times, Richard Levitan, MD, menjelaskan lebih dalam tentang gejala yang membuat pasien menderita infeksi paru-paru kronis, dengan tingkat oksigen yang sangat rendah. Namun, tidak ada masalah pernapasan sama sekali.

Levitan mengatakan, kebanyakan pasien dengan kondisi tersebut dilaporkan sakit selama seminggu atau lebih dengan gejala demam, batuk, sakit perut, dan kelelahan, tetapi napas mereka menjadi pendek di hari mereka datang ke rumah sakit.

"Pneumonia mereka jelas telah berlangsung selama berhari-hari, tetapi saat mereka merasa harus pergi ke rumah sakit, mereka seringkali sudah dalam kondisi kritis," ungkap dia.

2. Pembekuan Darah dan Stroke

Gejala Covif-19 yang kadang-kadang mematikan, salah satunya berkaitan dengan pembekuan darah yang tidak normal.

Ahli radiologi intervensi Yale Medicine, spesialisasi prosedur jantung yang dipandu gambar, Hamid Mojibian, MD, memberikan penjelasan bahwa otopsi pasien Covid-19 menunjukkan mikroemboli (gumpalan kecil) di berbagai organ yang menjelaskan beberapa disfungsi organ pada pasien.

"Pasien Covid-19 memiliki risiko lebih tinggi untuk membentuk gumpalan darah arteri yang bisa sangat berbahaya," kata dia.

Namun, lanjut Mojibian, tingkat berbahayanya bergantung pada di mana gumpalan terbentuk atau bermigrasi.

"Semua organ dalam tubuh kita bergantung pada darah yang dibawa melalui sistem arteri untuk berfungsi secara  benar.Setiap gangguan suplai darah dapat mengakibatkan konsekuensi yang parah," tambah Mojibian.

Dijelaskannya, ada sejumlah laporan pembekuan terjadi di aorta, arteri ginjal (menyebabkan infark ginjal), dan tungkai (menyebabkan kaki hitam dan gangren).

Namun, lanjut Mojibian, yang paling merusak adalah gumpalan di pembuluh darah otak yang dapat menyebabkan stroke, bahkan pada orang yang lebih muda.

3. Penyakit Mirip Sindrom Kawasaki

Otoritas Negara Bagian New York, 6 Mei 2020  mengeluarkan peringatan bahwa ada 64 anak di negara bagian tersebut dirawat di rumah sakit dengan kondisi aneh.

Para dokter menggambarkan kondisi mereka seperti "sindrom inflamasi multisistem pediatrik."

"Secara klinis menyerupai proses inflamasi masa kanak-kanak lainnya, penyakit Kawasaki," ungkap profesor pediatri sekaligus dokter penyakit menular pediatrik dari Yale School of Medicine, Thomas Murray, MD.

Gejala pada anak-anak tersebut, antara lain demam tinggi yang berkepanjangan, mata merah, ruam, nyeri otot, muntah, dan diare. Kondisi ini biasanya terjadi beberapa hari setelah infeksi awal.

4. Masalah Pencernaan

Berdasarkan penelitian baru, banyak pasien Covid-19 mungkin tidak mengalami gejala pernapasan sama sekali. Pasien malah menderita gejala gastrointestinal seperti diare, mual, dan muntah.

Sedangkan penelitian awal menemukan, kurang dari empat persen pasien Covid-19 memiliki gejala gastrointestinal.

Sejumlah penelitian lebih baru menemukan angka itu mendekati 11 persen, sementara beberapa penelitian lain mengklaim angkanya bisa mencapai 60 persen.

5. Kebingungan Parah

Gejala umum Covid-19 adalah kelelahan. Tetapi pada beberapa orang --terutama lansia--, dilaporkan pula sejumlah gejala baru seperti disorientasi dan kebingungan parah.

The University of Lausanne Hospital di Revue Medicale Suisse mengeluarkan pedoman klinis bahwa kondisi tersebut dapat menyertai demam dan masalah pencernaan.

Profesor neurologi di Rumah Sakit Universitas Pennsylvania, Joseph R. Berger, meyakini gejala kejiwaan ini mungkin disebabkan oleh silent hypoxia yang dijelaskan di awal.

Kondisi itu meliputi kekurangan oksigen di otak karena rendahnya kadar dalam darah.

"Otak tidak dapat menahan tingkat oksigen yang rendah. Ketika otak tidak mendapatkan cukup oksigen, pasien akan menderita hipoksia, yang pada akhirnya dapat mengubah cara berpikir mereka," kata Berger kepada Inquirer.

6. Lemah dan Dehidrasi

Direktur medis dari Ruth and Harry Roman Emergency Department di Cedars-Sinai Medical Center, Dr. Sam Torbati, memaparkan tentang kondisi ini.

Torbati menjelaskan, manula yang dirawat awalnya tampak seperti pasien trauma, tetapi belakangan ditemukan mengidap Covid-19.

Mereka, menurut Torbati, menjadi lemah dan dehidrasi. Ketika berdiri untuk berjalan, mereka pingsan dan itu membuat mereka mengalami luka parah.

Torbati melihat orang dewasa yang lebih tua terlihat sangat bingung dan tidak dapat berbicara, yang pada awalnya tampak seperti menderita stroke.

"Ketika kami mengujinya, kami menemukan apa yang menyebabkan perubahan ini adalah efek sistem saraf pusat dari virus corona," kata dia kepada CNN.

7. Gejala Berlanjut

Menurut WHO, kebanyakan orang dengan kasus Covid-19 ringan akan pulih dalam dua minggu, sedangkan infeksi yang lebih parah membutuhkan waktu 3-6 minggu untuk mereda.

Namun, menurut laporan baru dari New York, ada beberapa orang melewati batas 30 hari tersebut dan masih melaporkan gejala Covid-19, terhitung sejak dites negatif.

Kerri Noeth, wanita yang sudah memasuki hari ke-36 infeksi, mengatakan kepada ABC7NY, dia pernah ke UGD dua kali sejak tanda 14 hari dengan gejala berkelanjutan masih saja ada. Termasuk rasa terbakar dan kesemutan di dada dan lehernya disertai dengan hot flash.

Sedangkan Susan Silverman, yang pada hari ke-38 masih menderita kehilangan indra dan penciuman, sakit lengan dan vertigo, meskipun semua gejala tersebut tidak hanya berkaitan dengan Covid-19.

"Berbagai gejala yang tersisa, terutama jantung berdebar-debar, dan ketidaknyamanan yang luar biasa di dada dan tulang rusuk saya," kata Silverman.

Hal yang harus dilakukan

Setelah mengetahui atau merasakan gejala-gejala tersebut, atau bahkan gejala tradisional lain dari Covid-19, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyarankan untuk segera hubungi profesional medis, terutana dirasa ada risiko tinggi.

Mereka yang memiliki risiko tinggi menderita penyakit dari Covid-19, yaitu usia di atas 65 tahun, orang yang tinggal di panti jompo atau fasilitas perawatan jangka panjang, orang yang memiliki penyakit paru-paru kronis atau asma sedang hingga berat, kondisi jantung yang serius, memiliki berat badan berlebih atau obesitas, dan memiliki diabetes. Selain itu, mereka yang memiliki penyakit ginjal kronis dan sedang menjalani dialisis, atau memiliki penyakit hati.* New York Time/CNN/ABC7NY/sumber lain

 

 



Hot Artikel :
Saksikan :

Kasus Covid-19

Negara Indonesia
Kasus Terbaru 4497
Total Kasus 333449
Kematian Terbaru 79 Orang
Total Kematian 11844 Orang
Sembuh 3546 Orang
Total Sembuh 255027 Orang
Medium Rectangle 2 (300x250) - News Medium Rectangle 3 (300x250) - News