Saturday , 17 April 2021

Ingsuning Baraya Sunda Gelar Baksos Hingga Kemah Bhakti Budaya


210201114643-ingsu.png

Source: 18news.id/Fiki Presely Dibrata

Ingsuning Baraya Sunda mengadakan acara Kemah Bhakti Budaya yang bertempat di Hutan Pinus Bubulak, Desa Sirnaputra Cigalontang, Tasikmalaya, 3O Januari 2021.*

18NEWS.ID, Tasikmalaya -- Indonesia dikenal dengan kekayaan seni dan budaya. Budaya Indonesia tidak akan pernah habis untuk dibicarakan. Ragam bahasa, tradisi lokal, kesenian daerah, setiap penjuru nusantara punya ciri atau khas masing-masing. Hal inilah yang membuat Indonesia kaya keragaman.

Budaya Sunda adalah salah satu budaya yang tertua di bumi nusantara ini. Budaya Sunda dikenal dengan masyarakatnya yang periang, ramah-tamah, murah senyum, dan menjungjung tinggi sopan santun.

Seiring berjalannya waktu serta budaya modernisasi, baik dari Barat ataupun Timur yang hadir di Indonesia, Ingsuning Baraya Sunda (IBS) hadir tengah-tengah masyarakat Sunda. IBS sendiri merupakan sebuah wadah atau komunitas para penggiat seni budaya Sunda yang mencintai serta ingin melestarikan budaya Sunda, yang perlahan mulai mati suri serta tidak ada perhatian dari pemerintah setempat.

Bergerak selama empat tahun, IBS yang bersekretariat di Jalan Paledang, Desa Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, memiliki 12 bidang kegiatan yang dipadukan dengan PPG (Pupuhu Paguyuban) di setiap kecamatan. Kegiatannya, mencakup bidang sosial, bidang kesehatan, pengembangan seni budaya, pengembangan pelatihan, bidang wisata, dan lain-lain.

Dikomandoi oleh Lilih S. Galih (41), sebagai Ketua Umum, tepat pada 3O Januari 2021, IBS mengadakan acara Kemah Bhakti Budaya yang bertempat di Hutan Pinus   Bubulak, Desa Sirnaputra Cigalontang.

Para peserta Kemah Bhakti Budaya yang digagas Ingsuning Baraya Sunda di Hutan Pinus   Bubulak, Desa Sirnaputra Cigalontang, Tasikmalaya, 3O Januari 2021.* Dok. IBS

Acara Kemah Budaya yang menjadi salah satu agenda tahunan, diisi beragam kegiatan, mulai dari bhakti sosial, penanaman pohon, kampanye penggunaan masker, hingga pentas seni dari setiap PPG yang hadir dan diundang ke acara tersebut.

"Dibawa ke sini hanya beberapa PPG, yaitu Cigalontang, Tanjungjaya, Salawu, Sariwangi, dan Leuwisari. Kemah ini adalah acara tahunan dan rencana tahun depan akan diadakan di Situ Sanghyang," ungkap Lilih –yang akrab disapa Ki Galih-- , di sela-sela acara Kemah Budaya.

Ki Galih berharap ke depan ada peran aktif serta dorongan dari pemerintah daerah, khususnya instansi yang membawahi bidang seni serta budaya untuk melek terhadap budaya Sunda.

Bersama rekan-rekan, Ki Galih memesan 39 set kendang yang biayanya dari patungan serta hasil penjualan kaos atau  pernak pernik Sunda yang marginnya dikumpulkan sebagai uang kas dan kendang itu akan dikirim ke tiap padepokan.

"Padepokan tidak akan berjalan kalau tidak ada alat penunjang kegitan di tempat itu. Ini murni tidak ada bantuan pemerintah sedikit pun," tutupnya.*

 

 

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi