Saturday , 31 July 2021

Iyar Wiarsih Legenda Sinden Jawa Barat


200701124923-iyar-.jpg

Sumber foto: dokumentasi keluarga

18NEWS.ID - Iyar Wiarsih adalah salah satu pesinden legendaris dari Jawa Barat. Nama asli dari pesinden ini adalah Wiarsih saja, sedangkan Iyar merupakan nama pendeknya. Iyar Wiarsih merupakan anak dari pasangan yang bernama Enduy Karta Atmaja dan Iting Sahati. Iyar merupakan anak pertama dari 8 bersaudara.

Bakat menyanyinya sudah mulai terlihat sejak ia masih kecil. Bakat ini ia dapatkan dari ayahnya yang juga seorang seniman. Saat Iyar berumur sembilan tahun, ia belajar vokal tradisi Sunda untuk pertama kalinya dari Sumpenah. Awalnya Iyar diajarkan tembang Sunda, namun seiring berjalannya waktu ia mulai mempelajari lagu-lagu kepesindénan, dan lagu pertama kali yang dipelajarinya adalah lagu “Béndrong”.

Sejak tahun 1941, Iyar kerap berlatih secara berkeliling di kediaman bapak Sastra seorang pemain rebab, pemain kacapi (Bapak Sardi), dan pemain goong (Bapak Samir) di sekitar Kiaracondong. Dengan semangat dan hasratnya yang tinggi, seringkali Iyar selesai berlatih hingga tengah malam. Memasuki tahun 1942, ketika masa penjajahan Jepang datang, seringkali ketika ia hendak pulang ke rumahnya terhalang oleh “jam malam”   yang merupakan peraturan pada saat masa penjajahan Jepang.

Saat berumur 13 tahun, Iyar bersama grup gamelan Sundayana pimpinan ayahnya mengisi siaran di Radio Nirom (Netherlandsch Indische Radio Omroep Maatschappi) yang kini dikenal stasiun RRI (Radio Republik Indonesia) Bandung.

Dalam siarannya setiap malam jumat sebulan sekali, grup Sundayana menyajikan sajian kepesindénan baik dengan mengunakan perangkat gamelan maupun dalam perangkat celempungan.

Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1982, grup Sundayana ini mulai vakum. Namun Iyar masih tetap bersiaran di radio Nirom yang sudah berubah namanya menjadi stasiun RRI Bandung. Hingga Iyar diangkat menjadi Pembantu Siaran Tetap dengan status honorer.

Pada tahun 1997 Iyar memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Pembantu Siaran Tetap di stasiun RRI Bandung.

Pada saat itu, masyarakat seni meyakini bahwa seseorang dapat dinyatakan menjadi seorang pesinden, bila ia sudah mampu menjadi pesinden di pertunjukan wayang golék. Maka Iyar pun membuktikannya dengan menjadi sinden dari dalang Akrib. Saat itu Iyar bersama dalang Akrib manggung di daerah Cikutra (Bandung). Sejak saat itulah banyak dalang yang ikut serta mengajak Iyar untuk menjadi juru sindennya.  Pada pertunjukan wayang golék kala itu banyak dalang yang berpasangan bersama sinden secara tetap, namun tidak sama halnya dengan pesinden Iyar Wiarsih.

Iyar kerap kali manggung pada pertunjukan  wayang golék dengan dalang yang berbeda-beda. Hal tersebut tidak menjadi kendala bagi Iyar, malah sebaliknya hal ini memberikan dampak positif bagi Iyar, karena ia mampu lebih mengembangkan bakat di dunia kepesindénan.

Tak hanya menjadi pesinden, ia pun berbakat menciptakan lagu. Bersama sang suami A. Warsa Muharam, Iyar kerap menciptakan lagu. Ada 58 lagu yang berhasil diciptakannya, diantaranya

Mojang Priangan, Metik Kembang, Kalakay Murag, Rék Midang, Layung Sore dll.

Selain mahir dalam menciptakan puluhan lagu, Iyar juga menulis buku yang berjudul Pasindén Jeung Rumpakana (Pesinden dan Lirik Lagu). Sesuai dengan judul buku tersebut, isi dari buku ini salah satunya berisikan rumpaka-rumpaka (lirik lagu) baik dari lagu ageung (gedé) maupun lagu jalan.

Dari sekian banyak sinden di Jawa Barat, tak banyak sinden yang mampu menaruh perhatian dalam dunia akademis. Dengan dibuatnya buku tersebut,  Iyar membuktikan bahwa Iyar tak hanya mahir dalam bidang praktisi seni saja. Namun ia mampu membuktikan keilmuannya dalam bidang seni dengan menuangkan segala pengetahuan yang dimiliki dalam bentuk tulisan.

Dengan adanya buku ini, dapat dijadikan sebagai referensi bagi para seniman pemula yang ingin mendalami dunia kesenian khususnya dunia sekar kepesindénan. Tak hanya itu, Iyar pun sempat mengajar di Konservatori Karawitan (Kokar) pada tahun 1970-an. Meski terbilang sebagai seniman alam, namun tidak menyulutkan semangatnya untuk bisa menjadi sosok yang inspiratif khususnya bagi para pelaku seni agar mampu lebih memahami hal apapun terkait dengan seni yang sedang digelutinya tersebut.

Berkat lagu “Mojang Priangan” dan buku Pasinden Jeung Rumpakana ini Iyar berhasil mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh Bupati Bandung yaitu H. U. Hatta D. pada tanggal 16 Juni 1993.

Kemudian pada tahun 2010 karena banyak memberikan inspirasi kepada masyarakat luas, khususnya kepada para pelaku dan penikmat seni, Iyar dinobatkan sebagai salah satu “Perempuan Inspiratif Jawa Barat”, yang kisahnya dituliskan dalam judul buku yang sama yakni Perempuan Inspiratif Jawa Barat yang diprakarsai langsung oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat.

Tahun 2012 Iyar kembali mendapat Anugerah Budaya dan Pariwisata yang berupa penghargaan dari Gubernur Jawa Barat kala itu yakni Ahmad Heryawan.

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi