Soe Hok Gie: Akhir Hayat "Sang Demonstran" di Gunung Semeru

Reporter: - Editor: Riedha Aghniya Adriyana

Kamis, 17 Desember 2020 | 15:03 WIB

201217151436-Soe-H.jpg

Source: Betaria/Historia

Ilustrasi Soe Hok Gie.*

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID – DI kalangan mahasiswa dan aktivis tentu sudah tidak asing lagi dengan sosok Soe Hok Gie, sosok pemuda aktivis yang kritis. Lantas sosok Gie, menjadi panutan bagi seluruh kalangan aktivis dan mahasiswa. Di balik sosoknya yang terjun ke dunia literasi, Gie juga merupakan sosok yang gemar berkegiatan di alam bebas, sehingga dinobatkan sebagai pendirikan Mapala UI, mapala pertama di Indonesia.

Soe Hok Gie adalah salah seorang aktivis Indonesia, keturunan tionghoa yang turut andil dalam penurunan kekuasaan Orde Lama. Pria yang lahir di Jakarta, 17 Desember 1942 ini akrab disapa Gie. Ia merupakan anak ke empat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet. Ayah Gie, Soe Lie Pit adalah seorang novelis.

Sosok Soe Hok Gie identik dengan dunia pergerakan mahasiswa menjelang lengsernya Presiden Soekarno dari kekuasaan. Namun, sejatinya tak hanya itu. Secara tak langsung, melalui sikap kritisnya terhadap pemerintah, Gie juga merepresentasikan aktivis Tionghoa yang memiliki kecintaan terhadap negerinya, Indonesia.

Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius jurusan sastra. Selama mengenyam pendidikan di Kanisius inilah minat Gie pada dunia sastra semakin mendalam, serta ia juga mulai tertarik pada ilmu sejarah. Dari sini, kesadaran berpolitiknya pun mulai bangkit, membuat catatan perjalanan dan tulisan-tulisan Gie menjadi tajam dan penuh kritik.

Setelah menamatkan pendidikan di Kanisius, Gie melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia (UI). Gie memilih masuk ke fakultas sastra dan mengambil jurusan Sejarah. Masa-masa aktivismenya dimulai saat ia menjalani studinya di Universitas Indonesia. Gie tercatat aktif di sebuah lembaga Tionghoa bernama Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB).

Di lembaga tersebut, Gie menjadi editor dari jurnal yang mereka terbitkan. Jurnal tersebut bernama Bara Eka. Selain itu, ia bergiat di Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS) dan senat Fakultas Sastra UI. Di organisasi yang diikutinya, Gie aktif mengkritik pemerintah lewat tulisan-tulisannya.

Di LPKB, Gie aktif menulis tentang isu-isu asimilasi antara penduduk Tionghoa dan keturunan suku-suku lainnya di Indonesia. Sementara itu, di GMS Gie aktif menulis dan mengadakan berbagai seminar untuk memunculkan sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintahan Soekarno.

Puncaknya, melalui Senat Fakultas Sastra Indonesia, Gie dan kawan-kawannya angkatan 1966 turut merancang serangkaian demonstrasi seiring kenaikan harga bahan-bahan pokok karena tingginya inflasi saat itu. Hingga akhirnya, posisi Soekarno terdesak dan menyerahkan tampuk kekuasaan sementara kepada Soeharto yang kala itu menjabat Pangkostrad melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Lewat berbagai manuver politik, Soeharto pun menjabat Presiden RI menggantikan Soekarno. Kekuasaan berganti tetapi Gie tetap konsisten menyampaikan kritik kepada Soeharto. Ia aktif menulis di harian Sinar Harapan dan Kompas untuk melayangkan kritikannya kepada pemerintahan Soeharto.

Anggota Mapala UI dipotret saat melakukan kegiatan pemasangan plakat In Memoriam Soe Hok-Gie di Gunung Semeru, Jawa Timur pada tahun 1971. Soe Hok-Gie, anggota Mapala UI dengan nomor M-007-UI meninggal di Gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969. Source: Dok. Mapala UI

Selain dikenal sebagai aktivis politik, Gie juga dikenal sebagai aktivis pecinta alam. Ia kerap mendaki gunung-gunung di Pulau Jawa. Pangrango menjadi gunung favorit Soe Hok Gie. Ia pun punya alasan tersendiri mengapa mendaki gunung-gunung tersebut. Bagi Gie, mendaki gunung merupakan pengejawantahan kecintaannya terhadap Indonesia.

Kecintaan mendaki gunung itu pula yang menjadi akhir hayat Gie. Ia mengembuskan napas terakhirnya. Sehari sebelum hari ulang tahunnya, pada 16 Desember 1969, Soe Hok Gie meninggal di puncak Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa karena menghirup gas beracun.

Pada tahun 2005, sutradara muda Riri Riza menggarap film berjudul “Gie”, yang diangkat dari buku “Catatan Seorang Demonstran” karya Gie sendiri. Dalam film ini, tokoh Gie diperankan oleh aktor Nicholas Saputra. Pada Festival Film Indonesia 2005, film Gie memenangkan tiga penghargaan, masing-masing dalam kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Nicholas Saputra), dan Penata Sinematografi Terbaik (Yudi Datau). Serta terpilih dalam nominasi beberapa kategori penghargaan FFI.*

Komentar
Download Aplikasi
>