Ketika Sultan Hamengkubuwono IX Masih Bernama Henkie

Reporter: Hariyawan - Editor: Hariyawan

Minggu, 8 November 2020 | 08:15 WIB

201108082023-Ketik.png

Source: kratonjogja.id

Potret Sultan Hamengkubuwono IX.*

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID,-- SABTU PAHING, 12 April 1912, di Yogyakarta, lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Dorojatun. Putra pasangan Gusti Pangeran Haryo Puruboyo dan Raden Ajeng Kustilah itu, kehadirannya amat dinanti. G.P.H. Puruboyo sendiri merupakan putra tunggal Pangeran Puruboyo dari garwa padmi (permaisuri). Saat diangkat menjadi raja, G.P.H. Puruboyo bergelar Sultan Hamengkubuwono VIII.

Sejak masih berusia empat tahun, sang ayah telah menentukan pendidikan apa yang akan diterima Dorojatun. Ia bersama saudara-saudaranya harus tinggal dengan keluarga seorang Belanda.

Dalam tulisan M. Fazil Pamungkas di Historia.id, diceritakan Mohammad Roem, dkk. dalam Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX,  Sultan ingin putra-putranya menanggalkan semua kemewahan keraton, dan hidup dalam kesederhanaan. Namun tetap bisa belajar dengan baik, layaknya para bangsawan kala itu.

“Instruksi Sang Pangeran ketika itu jelas, yaitu agar putra-putranya dididik sebagai anak orang biasa saja, tidak diistimewakan karena status sosialnya yang tinggi. Hendaknya anak-anak itu menyerap kebiasaan hidup sederhana dan penuh disiplin sebagaimana yang ada dalam kalangan orang-orang Belanda,” tulis Roem, dkk.

Dorojatun tinggal bersama keluarga Mulder, seorang kepala sekolah di Neutrale Hallands Javanese Jongens School (NHJJS). Sementara saudara yang lain tinggal bersama keluarga Belandanya masing-masing. Dorojatun tidak pernah hidup di satu keluarga yang sama dengan saudara-saudaranya. Sultan juga tidak pernah menyediakan pelayan pribadi kraton untuk putranya itu. Semua kebutuhan rumah dilakukan Dorojatun secara mandiri, dibantu pelayan keluarga Mulder. Oleh keluarga angkatnya itu, Dorojatun diberi panggilan Henkie (Henk yang kecil).

Henkie berfoto bersama Sultan Hamengkubuwono VIII dan saudara-saudaranya. Source: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Setelah menyelesaikan sekolah Frobel (taman kanak-kanak), menurut Sutrino Kutoyo dalam Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Riwayat Hidup dan Perjuangan, pada usia enam tahun Henkie dimasukkan ke sekolah dasar Eerste Europese Lagere School B, di Jalan Panembahan Senopati sekarang. Kemudian Neutrale Europese Lagere School, di Jalan Kaliurang. Di sekolah dasar, Henkie terkenal aktif. Kegemarannya adalah bermain bola, berkemah, dan antem-anteman (pukul-pukulan), serta memasak. Pada waktu itu Henkie sudah cukup fasih berbahasa Belanda. Ia juga telah pindah dari keluarga Mulder ke keluarga Cock.

Pada 1925, setamat sekolah dasar Henkie melanjutkan sekolah ke HBS Semarang. Di sana ia mondok di rumah keluarga Voskuil, keluarga kepala penjara Mlaten. Namun tidak lama, hanya sekitar setahun, karena cuaca Semarang tidak cocok dengannya. Ia lalu pindah ke HBS Bandung, tinggal bersama keluarga De Boer. Cuaca Bandung yang lebih sejuk dari Semarang dirasa cocok untuk kesehatan Henkie. Di kota berjuluk Parijs van Java itu, ia tinggal selama 4 tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke Belanda.

“Taman kanak-kanak sampai sekolah dasar dan sekolah menengah dididik menurut pola Belanda. Senantiasa dipondokkan kepada orang Belanda. Akhirnya jadi mahasiswa pun di Negeri Belanda pula,” kata Dorojatun sebagaimana ditulis Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Peringatan 40 tahun (18 Maret 1940 – 18 Maret 1980).

“Nah Gusti Djatun yang pendidikannya tegas-tegas bercorak Barat, tidak tumbuh menjadi Sultan Belanda.”

Pada Maret 1930, Henkie bersama kakaknya, BRM Tinggarto, serta keluarga Hofland, berangkat menuju Holland. Mula-mula ia memilih sekolah Gymnasium di Haarlem. Untuk tempat tinggal, Henkie menetap di rumah keluarga Ir. W.C.G.H. Mourik Broekman, direktur sekolah tersebut. Ia bersekolah di sana hingga 1934. Selanjutnya Henkie memilih Rijksuniversiteit di Leiden, mengambil jurusan Indologi, bidang pendidikan gabungan hukum dan ekonomi yang umumnya diambil oleh orang-orang yang akan terjun ke bidang pemerintahan di Hindia Belanda.

Selama menjadi mahasiswa di Leiden, Henkie aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan. Ia pernah menjabat ketua di perkumpulan mahasiswa Verenigde Facultien. Pernah juga menjabat komisaris di perkumpulan Minerva. Ia pun aktif mengikuti diskusi-diskusi soal politik dan ekonomi kenegaraan yang biasanya diisi para tokoh pendidik Belanda, seperti Professor Schrieke.

Henkie bersama teman-temannya di Fakultas Indologi tahun 1939.* Source: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

“Saya merasa dapat menyelami karakter orang Belanda melalui pendidikan dan pergaulan dengan Belanda. Ini akan sangat membantu bagi siapapun yang dalam pekerjaannya akan selalu berhubungan dengan orang Belanda,” kata Dorojatun.

Pada 1939, Dorojatun diminta pulang ke Tanah Air oleh Sultan Hamengkubuwono VIII karena situasi di Eropa semakin gawat seiring mulai pecahnya Perang Dunia II. Ia juga diminta menemani sang ayah yang kondisinya terus menurun setelah divonis sakit diabetes. Dorojatun pun terpaksa meninggalkan sekolah doktoralnya.* 

 

 

Komentar
Download Aplikasi
>