Friday , 14 May 2021

Tarian Sufi, Tarian yang Dibarengi dengan Zikir


210503123346-taria.jpg

Source: instagram.com/dervisherlive

Tari Sufi.*

18NEWS.ID, Bandung – Tari sufi atau whirling dance adalah karya seorang sufi dari Turki, Maulana Jalaludin Rumi, pujangga sufi dari tanah Persia. Tari ini merupakan bentuk ekspresi dari rasa cinta, kasih, dan sayang seorang hamba kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad. Salah satu tuntunan Nabi Muhammad untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan berzikir. Rumi mengembangkan metode zikir dengan gerakan berputar sehingga terciptalah tari sufi.

Dalam Islam, para darwis yang terlibat dalam tarian ini mengenakan jubah putih yang melambangkan warna pakaian kematian (kain kafan). Namun, pada awal tarian, pakaian ini ditutupi oleh jubah hitam yang melambangkan pusara. Mereka juga mengenakan tutup kepala yang tinggi dan bundar, berwarna cokelat atau putih yang melambangkan batu nisan mereka.

Tarian Sufi. Source: instagram.com/tari_sufi_jogja

Tarian berawal dengan gerak para sufi mencium tangan pimpinan mereka. Kemudian mereka menanggalkan jubah hitam sebagai perlambang perpisahan mereka dari pusara menuju ke haribaan Sang Pemilik Alam Semesta. Mereka mulai berputar berlawan dengan arah jarum jam secara perlahan.

Gerakan ini melambangkan alam semesta yang selalu berputar mengelilingi garis edarnya masing-masing. Tangan kanan dengan telapak tangan menghadap ke atas di muka, sedangkan di belakang tangan kiri menghadap ke bawah. Itulah simbol bahwa apa yang mereka dapatkan dari kemurahan dan kasih sayang Allah mereka sebarkan ke seluruh semesta.

Sejarah dan Makna

Whirling Dervish pertama kali dipertunjukkan di wilayah Anatolia Turki sejak abad ke 13. Tarian ini diciptakan oleh seorang pria filsuf sekaligus penyair pada masa itu yang berasal dari Persia bernama Mawlana Jalaludin Rumi (Mevlana Celaleddin Rumi).

Konon, ketika Syamsuddin Tabriz guru spiritual Mawlana Jalaluddin Rumi meninggal dunia, ia mengalami kesedihan yang mendalam. Kemudian Rumi mengekspresikan kesedihannya dengan berputar-putar dan menyadari bahwa manusia itu fana.

Saat Rumi melakukan gerakan berputar, sebenarnya itu tak hanya sekadar berputar-putar saja dalam waktu yang lama. Gerakab berputar itu memiliki makna tersendiri, yaitu untuk menemukan tujuan hidup yang hakiki.

Tarian Sufi. Source: instagram.com/tarisufilangitan

Apa itu tujuan hidup yang hakiki? Yaitu mencari Tuhan dan merasakannya dalam gerakan yang berputar, dengan putaran yang berlawanan arah jarum jam. Penari sufi harus menanggalkan semua emosi, agar hanya merasakan kecintaan dan kerinduan yang mendalam pada Tuhan.

Tak hanya menanggalkan seluruh emosi, tetapi juga harus memiliki fisik yang kuat. Karena melakukan tarian sufi ini bisa berjam-jam lamanya. Bahkan Rumi, bisa melakukan hingga tiga hari tiga malam.

Digagas oleh Maulana Jalaluddin Rumi

Tarian sufi tampak misterius. Tarian biasa dilakukan laki-laki menggunakan jubah berwarna putih. Bagian bawah terlihat seperti rok lengkap dengan peci yang menjulang ke atas. Menariknya, penari sufi melakukan gerakan berputar-putar tanpa henti.

Tarian sufi erat kaitannya dengan pemikiran sufistik Islam. Tari sufi digagas Maulana Jalaluddin Rumi. Masyarakat Turki lebih mengenal dengan nama Mevlana. Seorang pria filsuf sekaligus penyair terkenal dari Persia.

Rumi lahir di kawasan yang sekarang masuk kawasan Afghanistan, 1207. Rumi lolos dari invasi Mongol dan menetap di Konya, terletak di kawasan Anatolia Tengah, Turki. Ayah Rumi berasal dari keluarga guru agama, yang membimbingmya melalui retret atau kegiatan menyendiri atau menjauhkan diri sendiri dari lingkungan keseharian untuk sementara waktu.

Sebuah tindakan bhakti dan metode pembelajaran tradisional lainnya. Hingga bertemu Syekh Shamsuddin Tabriz, guru spiritual Rumi. Rumi menjadi pemimpin spiritual yang mengilhami tradisi terpisah. Rumi dan Shamsuddin menutup diri selama berbulan-bulan, mengasingkan diri bersama-sama dan berbicara tentang kasih mereka kepada Tuhan.

Ilustrasi Maulana Jalalludin Rumi. Source: instagram.com/dervisherlive

Konon, ketika Shamsuddin meninggal, Rumi mengalami kesedihan yang amat mendalam. Lantas ia mengekspresikan kesedihannya itu dengan berputar dan menyadari bahwa manusia itu fana. Hingga menjadi tarian sufi. Gerakan tarian sufi tidak hanya sekadar berputar. Gerakan berputar itu memiliki makna yakni mendekatkan diri kepada Tuhan.

Mencari Tuhan dan merasakannya dalam gerakan yang berputar. Penati berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Penari sufi diharapkan dapat mencapai kesempurnaan iman dengan cara menanggalkan ego dan keinginan pribadi dalam hidup. Tidak hanya menanggalkan ego, penari sufi juga harus memiliki fisik yang kuat. Karena tarian sufi ini dilakukan selama berjam-jam.

Bahkan konon, ketika Shamsuddin meninggal Rumi bisa melakukan gerakan tari sufi hingga tiga hari tiga malam. Lantas, bagaimana caranya penari sufi tidak merasa pusing ketika harus melakukan gerakan berputar selama berjam-jam? Kuncinya adalah fokus.

Mata harus fokus menatap satu titik, senantiasa terbuka dan tidak melirik. Kepala juga tidak boleh bergerak, harus berada pada satu titik dan tidak boleh berpindah. Dengan cara inilah penari sufi tidak akan merasakan pusing meski harus berputar berjam-jam.*

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi