Friday , 14 May 2021

Seni Nandong yang Terlupakan


200522140442-seni-.jpg

Budaya tutur melalui seni dan budaya nandong baik pada pernikahan dan pesta adat. Foto: Ayat S Karokaro

18NEWS.ID - Seni Nandong yang berasal dari kepulauan Simeulue, provinsi Aceh merupakan seni tutur mengeluarkan isi hati melalui lantunan syair-syair atau pantun-pantun yang berisikan pesan-pesan moral, ungkapan, dan nasehat. Nandong dimainklan oleh dua orang atau lebih dengan menggunakan alat musik Kedang. 

Nandong telah ditemukan sejak masyarakat Minangkabau mendatangi Pulau Simeulue yang diperkirakan sejak abad ke-16, terutama pada masa Iskandar Muda. Nandong terdiri dari Samba, Serak, Kasih, Untung, Rantau dan Carai yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa Minangkabau dan Simeulue.

Dahulu, Kepulauan Simeulue terkenal dengan cengkih yang sangat berkualitas, bahkan sampai ekspor ke mancanegara. Saat memanen atau menjaga kebun, para orangtua bersenandung nandong dari atas pohon.

keluarganya yang menunggu di bawah, mendengarkan penuh seksama. Nandong disampaikan bersahut-sahutan dengan pemilik kebun lain, yang berjarak cukup jauh. Hingga senandung diucapkan dengan suara kuat. Kisah itu, terus disampaikan dari generasi ke generasi.

Nandong juga dibawakan kala masyarakat Simeulue pergi melaut mencari ikan. Di tengah laut, mereka bersenandung dan saling bersahutan satu sama lain.

Pada umumnya kesenian Nandong ini sering diadakan dalam acara syukuran, sunat, pesta nikah dan pesta rakyat. Pada acara tertentu seperti pesta pernikahan, nandong kerap dilakukan semalam suntuk untuk menghibur pengantin, sanak saudara, dan masyarakat setempat.

Pada pesta pernikahan atau pesta adat, nandong bersyair soal kehidupan, berpesan dan bercerita bagaimana para leluhur saling mencintai, saling menghormati antara yang muda dengan tua, saling berbagi, saling tolong menolong, dan bersyair tentang kerinduan orang tua terhadap anak di perantauan.

Biasanya para seniman melantunkan syair nandong itu dengan nada tinggi bak menjerit, meratap, lirih, dan saling bersahutan. Mereka menyanyikan syair dalam nandong ini dengan ekpresi yang berbeda-beda, ada yang memejamkan mata sembari menunduk saat ber syair, ada juga yang memandang lepas sembari memegang ujung telinga saat bersyair. Semua ekpresi itu untuk menghayati setiap bait-bait syair berisikan nasehat itu.

Namun sayang, seni ini kini tak lagi populer, bahkan perlahan mulai menghilang. Nandong  sudah dianggap kuno oleh masyarakat. Mereka kini lebih suka mengundang keyboard untuk memeriahkan acara, baik sunatan maupun pesta pernikahan.

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi