Friday , 14 May 2021

Mengenal Kain Tenun Baduy


200522154210-menge.jpg

BPNB Jabar

18NEWS.ID - Suku Baduy memiliki kain tenun yang disebut dengan Tenun Baduy. Kain tenun baduy ini memiliki makna-makna yang erat hubungannya dengan tradisi dan kepercayaan mereka.

Bagi orang baduy, kain ini menjadi sebuah identitas, terlebih khusus nilai-nilai adat yang juga melambangkan kehadiran mereka. Kain tenun ini sangat dekat dengan kehidupan khususnya lingkungan keluarga.

Bagi masyarakat baduy, menenun mengajarkan kedisiplinan. Setiap anak perempuan sedari kecil mereka sudah ditanamkan kedisiplinan yang tinggi dengan cara mempelajari aturan adat dan nilai-nilai masyarakat adat baduy. Salah satunya berhubungan dengan aktivitas menenun.

Menurut kepercayaan masyarakat Baduy, menenun merupakan wujud dari ketaatan yang dilakukan perempuan Baduy terhadap adat yang dijunjung.

Prosesnya dimulai dengan pembuatan benang. Bahan pembuat benang terdiri dari dua jenis, yaitu daun pelah dan kapas. Masyarakat Baduy menggunakan alat yang mereka ciptakan sendiri sejak ratusan tahun lalu untuk memintal kapas yang disebut dengan gedogan atau raraga.

Proses pembuatan benang dengan bahan kapas dimulai dengan memilih buah kapas yang sudah matang kemudian dijemur agar buah kapas pecah. Langkah selanjutnya adalah memisahkan antara kulit dari isinya. Isi kapas yang sudah terpisah dari kulitnya kemudian ditarik-tarik agar mengembang dan lembut saat dibuat benang.

Kemudian dilanjutkan dengan proses nyikat (penyampuran isi kapas dengan air bubur nasi), ngilak (penggulungan isi kapas), dan nganteh (pemintalan kapas menjadi benang). Dilansir dari laman Kemendikbud, terdapat 6 tahap yang harus dilalui dalam menun, yaitu nganjingjing, nalimbuhan, ngasupkeun pakan, nyisir, ngajingjing, dan keteg. Proses tersebut diulang-ulang dari tahap pertama ke selanjutnya sampai dengan selesai.

Kain tenun baduy memiliki kekhasan dari bahannya yang agak kasar dan warnanya cenderung dominan. Bintik-bintik kapas dari proses pemintalan tradisional telah menghasilkan tekstur khas tenun Baduy.

Alat untuk memintal dari kapas menjadi benang, merupakan alat yang mereka ciptakan sendiri sejak ratusan tahun lalu. Mereka  menyebut dengan nama gedogan/raraga.

Keahlian tenun merupakan tradisi turun menurun wanita Baduy. Tenun Baduy, dinamai berbeda-beda, sesuai fungsinya. Ada kain tenun caor, hapit, barera, jinjingan, limbuhan dan lain-lain.

Pun begitu dengan motif yang dihasilkan, seperti motif adu mancung, suat songket, suat balingbing dan lainnya. Untuk motif-motif tertentu, disesuaikan dengan fungsinya. Sarung motif kotak-kotak besar, poleng hideung digunakan oleh kaum lelaki. Kain poleng pepetikan digunakan kaum wanita saat ritual menumbuk padi.

Ada pula kain yg khusus dipakai untuk menutupi orang meninggal yaitu poleng magrib. Dan masih banyak lagi fungsi motif dan peruntukannya.

Tenun Baduy tak ubahnya ungkapan estetika dan alam sekitar pegunungan Kendeng, tempat masyarakat Baduy bermukim. Coraknya mencerminkan sikap hidup dan adat istiadat yang masih dijaga sebagai warisan nenek moyang.

Untuk menghasilkan kain tenun Baduy ini, prosesnya cukup lama. Bahkan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Lamanya proses ini disebabkan oleh besar dan kerumitan membuat motif kain.

Suku Baduy menggunakan kain tenun ini sebagai bahan utama pembuatan baju adat. Terlebih lagi jika menyangkut dengan Suku Baduy Dalam yang masih memegang teguh aturan adat. Pakaian harus terbuat dari kapas dan tidak boleh menggunakan mesin jahit dalam pembuatannya.

Untuk Suku Baduy dalam kain tenun yang dihasilkan didominasi dengan warna putih. Warna ini diartikan dengan suci dan aturan yang belum terpengaruh dengan budaya luar.

Sedangkan untuk masyarakat Baduy Luar, kain tenun akan didominasi warna hitam dan biru tua menjadi warna yang sering dipakai. Untuk kaum perempuan, kain digunakan dalam membuat baju adat yang memiliki bentuk menyerupai kebaya.

Kini keberadaan kain tenun Baduy sudah merambah dunia luar. Tak hanya di sekitar Banten, permintaan dari beberapa negara seperti Jepang, Vietnam dan Korea Selatan semakin meningkat.

Belum lagi dari beberapa negara di Eropa. Bahkan. tenun Baduy pernah melenggang di catwalk Paris Fashion Week.

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi