Saturday , 31 July 2021

Kesenian Sasapian, Upaya Masyarakat Mensyukuri Kesuburan Tanah Cihideung


200722201955-kesen.jpg

Panji Darwani

Seorang pemain sasapian saat melakukan atraksi sambil diiringi musik pengiring.*

18NEWS.ID - BINATANG sapi merupakan lambang kesejahteraan masyarakat. Begitu pun bagi masyarakat Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB), sapi jadi personifikasi kesejahteraan masyarakat. Sapi jadi perlambang kesuburan tanah.

Bahkan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat pada sapi sebagai lambang kesuburan, pada suatu masa –sejak decade 1930-an—kesenian sasapian  telah dipertunjukkan di Desa Cihideung.

“Sasapian sudah ada sejak tahun 1932, tapi mendapat sedikit modifikasi setelah kemerdekaan RI. Dari Cihideung, sasapian menyebar ke beberapa desa yang lain di daerah Bandung Utara," kata budayawan Sunda, Mas Nanu Muda alias Bah Nanu, pada suatu kesempatan.

Seperti juga diakui Bah Nanu, keberadaan kesenian sasapian di KBB tidak berhubungan dengan peternakan sapi yang banyak terdapat di kawasan Lembang.

"Sasapian itu berkaitan dengan pertanian. Dulu itu orang Cihideung selain membudidayakan tanaman hias, banyak  yang bertani," ujarnya.

Sasapian muncul sebagai kesenian pengiring dari salametan irung-irung, yang merupakan  rasa syukur masyarakat setempat terhadap dua mata air yang dipakai untuk mengairi sawah mereka, sehingga panen mereka mucekil (berhasil, berbuah banyak, Red,-).

Sebelum tarian dimulai, sapi bohongan yang terbuat dari bambu berbalut kain itu diberi sesaji oleh seorang pemimpin upacara. Ritual sasapian berlangsung cukup mistis, karena penari di balik sapi buatan bergerak-gerak seperti orang yang kerasukan roh halus.

Pada awal munculnya, waditra pengiring pada pertunjukannya  hanya diiringi oleh kentrungan (kendang kecil). Berkat  kreativitas tokoh setempat, Abah Madi dibantu Abah Ondo, alat musik pengiring kesenian sasapian mulai menggunakan waditra, seperti kendang, goong, kempul, ketuk, kecrek, dan bedug.

Selain itu, properti yang digunakan dalam kesenian sasapian, yakni sasapian, sesajen, lodong (bilah bambu yang dipotong berukuran kurang lebih 50 cm digunakan untuk menghasilkan suara ledakan).

Kebiasaan masyarakat melaksanakan kepercayaan warisan leluhur terhadap dua mata air di Desa Cihideung, sangat dijaga keberadaannya. Masyarakat menyadari bahwa kesenian sasapian sebagai warisan budaya tidak ternilai, sehingga keberlangsungannya harus dijaga dan dipelihara.

Untuk menjaga keberlangsungan kesenian sasapian sebagai warisan budaya yang tidak ternilai ini,  masyarakat Desa Cihideung melaksanakan upacara salametan dua mata air yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu pada acara peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus lewat “Cihideung Festival” atau acara-acara tertentu.

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi