Saturday , 31 July 2021

Kampung Kuta Tambakansari, Kampung Adat Unik dari Ciamis


210527125757-kampu.jpg

Source: instagram.com/SAEFPHOTO

Rumah Kampung Adat Kuta.*

18NEWS.ID – Kampung Adat Kuta Tambaksari adalah sebuah kampung adat yang sampai saat ini masih teguh memegang budaya adat leluhur. Kampung Adat Kuta ini berada di Desa Karangpaninggal Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.

Di dalam budaya daerah dan masyarakat tertentu ada beberapa adat pantangan atau pamali yang masih berlaku. Masyarakat masih percaya dengan suatu kejadian buruk yang akan terjadi jika melanggar peraturan tersebut.

Di antara pamali itu ternyata ada juga yang sangat bermanfaat untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Masyarakat Dusun Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat adalah salah satu contoh masyarakat yang melestarikan alam dengan budaya pamali.

Sebagai sebuah kampung adat, kampung ini memiliki keunikan tersendiri yang dapat membuat para pendatang yang berkunjung ke daerah tersebut lebih penasaran lagi. Suasana alam yang begitu memesona, liku-liku jalan aspal dengan turunan yang berbelok – belok membuat suasana semakin penasaran untuk datang ke kampung ini.

Kampung Adat Kuta terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang. Daerah ini berada di ujung Jawa Barat bagian timur dan berdekatan dengan perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah.

Tradisi gotong jampana (hasil panen), salah satu tradisi dari Kampung Adat Kuta. Source: instagram.com/CIAMIS.INFO

Salah satu kearifan lokal yang menonjol di kampung Kuta adalah dalam hal pelestarian hutan, mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan mereka. Masyarakat adat Kuta memiliki hutan keramat atau disebut Leuweung Gede yang sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup.

Karena ketaatannya dalam menjaga kelestarian lingkungannya, pada Tahun 2002 Kampung Kuta memperoleh penghargaan Kalpataru untuk kategori Penyelamat Lingkungan. Ada juga larangan seperti membangun rumah dengan atap genting.

Rumah-rumah penduduk atapnya menggunakan bahan dari daun kiray dan ijuk dari pohon enau. Rumah adat masyarakat Kuta kebanyakan berbentuk panggung, sehingga aman dari gangguan binatang melata. Juga kondisi panggung seperti ini menurut para ahli adalah ilmiah.

Aman bila terjadi goyangan gempa. Keunikan lainnya yaitu warga Kampung Kuta dilarang membuat sumur. Air untuk keperluan sehari-hari harus diambil dari mata air. Larangan tersebut mungkin dikarenakan kondisi tanah di kampung yang labil dan dikhawatirkan dapat merusak kontur tanah.

Air yang berada di pegunungan di kampung Kuta aman untuk dikonsumsi karena belum tercemar dengan bahan – bahan kimia seperti halnya daerah lain. Apalagi limbah – limbah yang berbahaya untuk kesehatan. Jangankan memakai bahan kimia, kencing atau buang air besar di gunung pun dilarang.

Maka pantaslah keadaan alam yang begitu asri sehingga tumbuhan pun tumbuh dengan subur, air mengalir dengan jernihnya, tanaman masyarakat pun tumbuh dengan subur baik di sawah atau lainnya. Larangan menangkap burung pun berlaku di daerah ini. Maka bila masuk daerah ini jangan coba-coba membawa senjata seperti senapan angin atau alat pemburu lainnya.

Walaupun terikat aturan-aturan adat, masyarakat kampung Kuta mengenal dan menggemari berbagai kesenian yang digunakan sebagai sarana hiburan. Baik kesenian tradisional seperti calung, reog, sandiwara (drama Sunda), tagoni (terbang), kliningan, jaipongan, kasidah, ronggeng, sampai kesenian modern dangdut.

Salah satu upacara adat yang rutin dilakukan adalah upacara adat Nyuguh. Nyuguh merupakan upacara yang dilaksanakan pada tanggal 25 Shafar pada setiap tahunnya. Sesuai kebiasaan leluhur, acara nyuguh harus dilakukan di pinggir Sungai Cijolang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.*

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi