Saturday , 31 July 2021

Cover Lagu: Polemik Antara Suatu Karya dan Plagiasi


210527130841-.jpg

Source: freepik

Ilustrasi.*

18NEWS.ID – Youtube adalah sebuah situs web berbagi video. Situs ini memungkinkan pengguna bisa menggunggah dan menonton video konten mulai dari bisnis, hiburan, hobi, gaya hidup, dan masih banyak lagi.

Belakangan ini banyak sekali penyanyi atau pengisi konten kreatif di youtube membuat video menggunakan lagu yang sesuai dengan tema si pemilik konten Youtube tersebut, mulai dari cover lagu sampai membuat video parodi.

Tetapi, ada beberapa pihak pemilik akun Youtube menggunakan lagu-lagu yang sedang hits untuk dijadikan cover lagu dan di monetisasikan videonya tanpa pengetahuan si pencipta atau pemilik lagu aslinya.

Ilustrasi proses pembuatan karya (purwacaraka). Source: instagram.com/studiomusiksalihara

Dalam hukum perdata indonesia hak cipta termasuk ke dalam hak atas benda, hak kebendaan adalah hak yang memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda dapat dipertahankan terhadap siapapun. Sedangkan di Youtube masih banyak orang yang mengcover lagu dan mengubah aransemen nya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada penciptanya, padahal itu sesuatu yang tidak diperbolehkan apalagi mengambil suatu keuntungan dari karya seseorang. Karena pencipta berhak untuk melarang atau memperbolehkan suatu karya untuk dinyanyikan ulang dan di upload ke Youtube.

Dalam industri musik, dari sudut perlindungan hak cipta dibedakan antara komposisi musik/lagu (music composition) dan rekaman suara (sound recordings). Komposisi musik terdiri dari musik, termasuk di dalamnya syair/lirik.

Komposisi musik dapat berupa sebuah salinan notasi atau sebuah rekaman awal (phonorecord) pada kaset rekaman atau CD. Komposer/pencipta lagu dianggap sebagai pencipta dari sebuah komposisi musik.

Sementara itu, rekaman suara (sound recording) merupakan hasil penyempurnaan dari serangkaian suara-suara baik yang berasal dari musik, suara manusia dan atau suara-suara lainnya. Dianggap sebagai pencipta dari sound recording adalah pelaku/performer (dalam hal pertunjukan) dan atau produser rekaman (record producer) yang telah memproses suara-suara dan menyempurnakannya menjadi sebuah rekaman final.

Ilustrasi pembuatan live recording. Source: instagram.com/studiomusiksalihara

Undang-Undang Hak Cipta

Hak cipta pada sebuah rekaman suara tidak dapat disamakan dengan, atau tidak dapat menggantikan hak cipta pada komposisi musiknya yang menjadi dasar rekaman suara tersebut. Dalam Undang-Undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (“UU Hak Cipta”), perlindungan hak cipta atas komposisi musik disebut pada Pasal 12 ayat (1) huruf d UU Hak Cipta, sementara perlindungan hak cipta atas rekaman suara disebut pada Pasal 49 ayat (1) dan (2) UU Hak Cipta.

Cover version atau cover merupakan hasil reproduksi atau membawakan ulang sebuah lagu yang sebelumnya pernah direkam dan dibawakan penyanyi/artis lain. Tidak sedikit, sebuah lagu cover version bahkan menjadi lebih terkenal dari pada lagu yang dibawakan oleh penyanyi aslinya. Karenanya, banyak artis baru mencoba peruntungannya dengan membawakan lagu cover version dengan tujuan agar lebih cepat sukses dan terkenal.

Untuk lagu-lagu cover yang diciptakan untuk tujuan komersial tadi, pencantuman nama penyanyi asli saja pada karya cover tentu tidak cukup untuk menghindari tuntutan hukum pemegang hak cipta. Agar tidak melanggar hak cipta orang lain, untuk mereproduksi, merekam, mendistribusikan dan atau mengumumkan sebuah lagu milik orang lain, terutama untuk tujuan komersial, seseorang perlu memperoleh izin (lisensi) dari pencipta/pemegang hak cipta sebagai berikut:

  1. Lisensi atas Hak Mekanikal (mechanical rights), yakni hak untuk menggandakan, mereproduksi (termasuk mengaransemen ulang) dan merekam sebuah komposisi musik/lagu pada CD, kaset rekaman dan media rekam lainnya; dan atau
  2. Hak Mengumumkan (performing rights), yakni hak untuk mengumumkan sebuah lagu/komposisi musik, termasuk menyanyikan, memainkan, baik berupa rekaman atau dipertunjukkan secara live (langsung), melalui radio dan televisi, termasuk melalui media lain seperti internet, konser live dan layanan-layanan musik terprogram.

Royalti atas mechanical right yang diterima dibayarkan oleh pihak yang mereproduksi atau merekam langsung kepada pemegang hak (biasanya perusahaan penerbit musik (publisher) yang mewakili komposer/pencipta lagu).

Sementara pemungutan royalti atas pemberian performing rights pada umumnya dilakukan oleh sebuah lembaga (di Indonesia disebut Lembaga Manajemen Kolektif “LMK”) berdasarkan kesepakatan antara pencipta dan lembaga tersebut.

WAMI (Wahana Musik Indonesia) dan YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia) adalah dua dari beberapa LMK di Indonesia yang saat ini aktif menghimpun dan mendistribusikan royalti dari hasil pemanfaatan performing rights untuk diteruskan kepada komposer/pencipta lagu dan publisher.

(Kalo di hubungkan dengan ajaran Dalam Islam dilarang mengambil harta sesama untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan pribadi kecuali adanya kemashlahatan bersama.Tetapi masih banyak orang yang suka mengcover lagu dan mengambil keuntungan dari sebuah karya orang lain. Selain mengambil harta, Islam juga melarang mengambil hak atau hasil karya seseorang tanpa seizin nya terlebih dahulu.)*

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi