Saturday , 31 July 2021

Sejarah Malam 1 Suro, Ritual Malam yang Disakralkan


210527134154-sejar.jpg

Source: instagram.com/Pemkot_solo

Ilustrasi ritual malam 1 suro.*

18NEWS.ID – Mitos hampir mirip dengan legenda dan cerita rakyat yang merupakan cerita tradisional dalam jenis yang berbeda. Yang sedikit membedakan adalah Cerita rakyat dapat berlatar kapan pun dan dimana pun, dan tidak harus dianggap nyata atau suci oleh masyarakat yang melestarikannya.

Demikian juga dengan legenda yaitu kisah yang secara tradisional dianggap benar-benar terjadi, namun berlatar pada masa-masa yang lebih terkini, saat dunia sudah terbentuk seperti sekarang ini. Legenda biasanya menceritakan manusia biasa sebagai pelaku utama, sementara mitos kepada tokoh dewa.

Tahun baru Hijriah 1 Muharam 1443 akan jatuh pada hari selasa 10 Agustus 2021. Pada tanggal tersebut, dalam kalender Jawa dikenal sebagai malam 1 Suro, yang oleh sebagian masyarakat dilekatkan dengan malam yang sakral atau keramat.

Anggapan kesakralan Malam 1 Suro dalam diteropong melalui representasi beberapa film, seperti Malam Satu Suro (1988) yang dibintangi oleh legenda film horor, Suzzana. Dalam film tersebut, malam itu digambarkan sebagai saat di mana bermacam setan, jin, dan santet menunjukkan eksistensinya.

Selain itu, di beberapa kalangan masyarakat, banyak pula mitos-mitos yang beredar, utamanya seputar pantangan melakukan aktivitas tertentu di bulan Suro karena dianggap ra ilok, pamali. Beberapa kegiatan, misalnya, mengadakan pernikahan atau membangun rumah pantang untuk dilakukan bagi sebagian orang Jawa yang mempercayainya.

Di beberapa daerah pula, bermacam ritual dalam menyambut “malam yang disucikan” dilakukan. Contohnya, beberapa kalangan masyarakat mengadakan padusan, yakni mandi bersama di sungai sebagai cara untuk “membersihkan diri” dari aura negatif dan bersiap untuk tahun yang baru.

Selain itu, kegiatan seperti lek-lekan atau tidak tidur semalaman, tudurani (perenungan diri sambil berdoa), tirakatan hingga selamatan dengan menyajikan aneka sesaji juga akan dilakukan. Tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti gunung atau pun petilasan raja-raja juga akan ramai dikunjungi.

Pakaian adat untuk menyambut malam 1 suro. Source: instagram.com/pemkot_solo

Sejarah Malam 1 Suro

Akar Kesakralan Malam 1 Suro Muhammad Solikhin dalam Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa (2010) berpandangan, faktor terpenting yang menyebabkan bulan Suro dianggap sakral adalah budaya keraton.

Ia menulis, bahwa keraton sering mengadakan upacara dan ritual untuk peringatan hari-hari penting tertentu, dan akhirnya terus diwariskan, dilanjutkan dari generasi ke generasi. Dalam konteks malam 1 Suro, seperti dicatat Wahyana Giri dalam Sajen dan Ritual Orang Jawa (2010), lingkungan Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta sebenarnya memaknainya sebagai malam yang suci atau bulan penuh rahmat.

Pada malam tersebut mereka mendekatkan diri kepada Tuhan dengan membersihkan diri melawan segala godaan hawa nafsu, dengan menjalankan tirakat dan lelaku atau perenungan diri. Salah satunya, selamatan khusus selama satu minggu berturut-turut dan tidak boleh berhenti.

Sementara Prapto Yuwono, pengajar Sastra Jawa di Universitas Indonesia, mencoba menjelaskan mengapa pada akhirnya Malam 1 Suro dimaknai secara menakutkan. Menurutnya, ini adalah imbas dari politik kebudayaan dari Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Pada kurun 1628-1629, Mataram mengalami kekalahan dalam penyerbuannya ke Batavia, yang akhirnya membuat Sultan Agung melakukan evaluasi.

Setelah penyerbuan itu pula, pasukan Mataram yang menyerang Batavia telah terbagi ke dalam pelbagai keyakinan seiring semakin masifnya Islam di tanah Jawa. Kondisi tersebut akhirnya membuat pasukan Mataram tidak solid. Kemudian, untuk merangkul semua golongan yang terbelah, Sultan Agung menciptakan kalender Jawa-Islam dengan pembauran kalender Saka dari Hindu dan kalender Hijriah dari Islam.

Alasan Sultan Agung Menciptakan Tahun Jawa Islam Menurut Prapto, alasan mengapa Sultan Agung menciptakan tahun Jawa-Islam, karena ada satu peristiwa sejarah yang membuat dia miris dan sedih. Ia lantas berpikir secara keseluruhan bahwa ada yang salah dengan kebudayaan Jawa. Banyak yang mengaitkan rasa sedih Sultan Agung dengan kekalahan dalam dua kali penyerbuannya ke Batavia.

Akhirnya, ia menciptakan tahun baru yang menggabungkan antara tahun Saka Hindu dengan tahun Islam, dengan harapan bahwa berubahnya konsep akan membuat semua kepedihan itu hilang. Sultan Agung juga mencanangkan pada malam permulaan tahun baru itu untuk prihatin, tidak berbuat sesuka hati dan tidak boleh berpesta.

Kirab pusaka di malam 1 Suro. Source: instagram.com/pemkot_solo

Masyarakat harus menyepi, tapa, dan memohon kepada Tuhan. Prapto juga mengimbuhkan, untuk menghormati leluhur dan sebagai bentuk evaluasi, pada malam tersebut juga pusaka-pusaka dicuci, dibersihkan, seiring dengan kehidupan spiritual yang disucikan kembali.

Dari sinilah, menurut pengajar Sejarah Jawa UI itu, yang membuat orang Jawa meyakini bahwa malam satu Suro itu menjadi malam yang sangat sakral. Dan di situ pula, pertemuan antara dunia manusia dengan dunia gaib, karena pusaka-pusaka dicuci, didoakan, diselamatkan kembali. Lebih lanjut ia menjelaskan, karena malam tersebut merupakan "pertemuan" antara dunia manusia dengan dunia gaib, maka malam tersebut akhirnya ditakuti orang-orang.

Bagi sebagian orang, ketakutan itu adalah berupa sanksi-sanksi gaib jika tidak berbuat kebaikan. Sementara bagi sebagian lain justru kehadiran dunia gaib inilah yang ditakuti. Kepercayaan inilah yang kerap diangkat ke layar lebar dengan menghadirkan kisah-kisah menyeramkan.

Tradisi-tradisi itu pun terus berlanjut, dan kesakralan Malam 1 Suro terus diproduksi melalui mitos-mitos, tuturan cerita mulut ke mulut, bahkan tak jarang layar kaca juga menyuburkannya.

Di beberapa daerah pula, bermacam ritual dalam menyambut “malam yang disucikan” dilakukan. Contohnya, beberapa kalangan masyarakat mengadakan padusan, yakni mandi bersama di sungai sebagai cara untuk “membersihkan diri” dari aura negatif dan bersiap untuk tahun yang baru.

Selain itu, kegiatan seperti lek-lekan atau tidak tidur semalaman, tudurani (perenungan diri sambil berdoa),tirakatan hingga selamatan dengan menyajikan aneka sesaji juga akan dilakukan. Tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti gunung atau pun petilasan raja-raja juga akan ramai dikunjungi.

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi