Kota Cirebon, Kota Para Sultan

Reporter: Ilham Hassan - Editor: Edi Priatna -

Jumat, 3 Juli 2020 | 09:32 WIB

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID - Berdasarkan catatan sejarah dalam naskah Babad Tanah Sunda dan Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon mulanya adalah sebuah dukuh kecil yang didirikan oleh Ki Ageng Tapa. Perlahan-lahan, dukuh ini berkembang menjadi semakin ramai dan akhirnya bernama Caruban, yang dalam bahasa Sunda berarti ‘campuran’. Nama tersebut mewakili bermacam suku bangsa, bahasa, adat, agama, latar belakang, dan mata pencaharian dari masyarakat yang mendiaminya.

Sejarah Kesultanan kota Cirebon dimulai pada abad ke-15 dan 16 masehi, yang mana saat itu berdiri Kesultanan Cirebon, sebagai pangkalan penghubung jalur perdagangan antar pulau. Pada 1677, Kesultanan Cirebon dibagi menjadi tiga, yang diwakili oleh ketiga sultan. Pangeran Martawijaya sebagai Sultan Sepuh bergelar Sultan Raja Syamsuddin, Pangeran Kertawijaya sebagai Sultan Anom bergelar Sultan Muhammad Badriddin, serta Sultan Cerbon yang menjadi wakil Sultan Sepuh.

Dengan demikian, ada tiga keraton di Cirebon yaitu Keraton Kasepuhan tempat tinggal Sultan Sepuh, Keraton Kanoman tempat tinggal Sultan Anom, dan Keraton Kacirebonan tempat tinggal Sultan Cerbon. Selain ketiga keraton tersebut, sebenarnya ada satu keraton lagi yang tidak begitu dikenal, yaitu Keraton Gebang.

Pada tahun 1681  secara politik dan ekonomi Cirebon berada dalam pengawasan pihak VOC, setelah penguasa Cirebon waktu itu menandatangani perjanjian dengan VOC.

Lalu pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 toko eceran dua perusahaan dagang dan pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal). Adapun pada tahun 1868 ada tiga perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabang di Cirebon. Pada tahun 1877 Cirebon sudah memiliki pabrik es. Pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877.

Pada masa kolonial pemerintah Hindia Belanda tahun 1906 Cirebon disahkan menjadi Gemeente Cheribon dengan luas 1.100 ha dan berpenduduk 20.000 jiwa. Kemudian pada tahun 1942, Kota Cirebon diperluas menjadi 2.450 ha dan tahun 1957 status pemerintahannya menjadi Kotapraja dengan luas 3.300 ha, setelah ditetapkan menjadi Kotamadya tahun 1965 luas wilayahnya menjadi 3.600 ha.

Komentar
Download Aplikasi
>