Saturday , 31 July 2021

Gamelan Ki Pembayun: Karya Besar dalam Sejarah Karawitan Sunda yang hilang!


200720215952-gamel.jpg

Margaret Katomi

Source Youtube : Nanang Jaenudin

Gamelan Ki Pembayun merupakan nama sebuah karya besar karawitan Sunda yang di gagas oleh Raden Machjar Angga Koesoemadinata. gamelan ini mengukir sejarah gamelan di Indonesia sebagai gamelan paling mutakhir sampai hari ini.

18NEWS.ID, Bandung, - Gamelan Ki Pembayun merupakan gamelan yang diciptakan oleh Raden  Machjar Angga Koesoemadinata (1902-1979) seorang tokoh karawitan Sunda 51 tahun yang lalu di Pancasan Bogor. Keberadaan gamelan ini dalam khasanah kesenian Sunda mempunyai posisi penting, bahkan mempunyai potensi untuk merekontruksi kesenian-kesenian lama dan menciptakan kesenian-kesenian yang baru.

Selama 51 tahun usia gamelan tersebut, tak kurang dari satu tahun gamelan tersebut diketahui keberadaanya. Ki Pembayun menghilang dari tempat tinggalnya di salah satu ruang Gedung Sate yang saat ini menjadi kantor Gubernur Jawa Barat, tanpa diketahui secara pasti waktu kehilangannya, gamelan ini hilang tanpa meninggalkan jejak.

Gamelan Ki Pembayun merupakan perangkat gamelan Sunda yang dijuluki “si sulung” atau  dalam bahasa Sunda “si cikal”. Penamaan tersebut di dasari oleh terciptanya gamelan Sunda untuk pertama kalinya yang memiliki 17 nada. Perangkat gamelan ini dinilai sangat  istimewa dikalangan masyarakat yang bergelut di bidang kesenian hingga namanya pun tetap melegenda, namun hal  tersebut tidak terjadi pada masyarakat secara umum.

Pasalnya, gamelan  tersebut tidak diketahui keberadaanya, wajar saja jika masyarakat  Sunda saat ini banyak yang tidak mengetahui perangkat gamelan tersebut.    

Dikutip dari sebuah artikel nasional kompas pada tahun 2012, seorang penulis Rukmana Hs (alm) yang pernah mencoba menelusuri keberadaanya menggungkapkan kekaguman akan kehebatan gamelan Ki Pembayun yang bisa mengiringi lagu-lagu dari mana pun, baik  lagu-lagu dalam laras diatonis maupun lagu-lagu dalam dalam laras pelog, salendro, atau laras lagu lainnya.

Gamelan Ki  Pembayun memiliki keistimewaan dan kekhasan tersendiri karena terdiri atas 17 nada dalam bentuk bilah maupun penclon. Susunan nada-nadanya pun selain terdiri dari nada-nada pokok gamelan ini terdiri atas nada-nada sisipan (miring).

Selain keistimewaan dan kekhasan yang terlihat dari fisiknya, gamelan Ki Pembayun mempunyai ciri khas lain dimana perangkat gamelan ini  terbuat dari perunggu seberat kurang lebih 1 ton, selain itu jumlah penclon bonang dan rinciknya terdiri dari 36 penclon. Jumlah bilah saron 1, saron 2, peking, demung dan selentemnya terdiri dari 18 bilah, 20 penclon kenong, 20 penclon kempul, 2 goong besar, 2 gender yang masing-masing memiliki 52 bilah serta 2 ketuk kempyang, Sungguh jumlah yang sangat fantastis untuk sebuah perangkat gamelan yang dibuat pada jaman dahulu.

Rd. Machjar sebagai etnomusikolog Sunda yang lahir pada tahun 1902 berhasil mencapai tingkat tertinggi dalam dedikasi penelitiannya terhadap khasanah kesenian Sunda khusunya dalam hal frekuensi laras pelog  dan  salendro yang hingga kini masih belum ada gantinya. Semasa hidupnya Rd. Machjar selalu berada di lingkungan kesenian Sunda dan mempunyai beberapa guru dalam masing-masing jenis kesenian Sunda.

Ia belajar rebab pada Pak etjen, lalu belajar gamelan kepada Pak Idi dan belajar vokal tembang pada Pak Oetje. Pengetahuannya dibidang musik, baik musik etnis ataupun musik barat terus bertambah lewat pelajaran musik barat yang didasari ilmu sains dan ilmu fisika ketika menjadi murid di sekolah guru Kweekschool dan kemudian melanjutkan ke Hogere Kwekschool. Sejak saat itu ia sering melakukan penelitian-penelitian terhadap frekuensi gamelan yang ada di sumedang dan bandung, hingga pada tahun 1923, ketika masih menduduki bangku sekolah, karyanya yang dinamakan serat kanayagan tercipta. Karyanya itu merupakan tangga nada Sunda "da, mi, na, ti, la" yang sampai saat ini menjadi dasar pengajaran karawitan Sunda.

Ki Pembayun merupakan puncak hasil penelitiannya yang sangat panjang, kurang lebih setengah dekade lamanya, Rd.Machjar endedikasikan hidupnya untuk musik Sunda. Pada tahun 1971, Ki Pembayun rencanya akan dibawa untuk mengiringi Sendratari Ramayana di Surabaya, namun Ki Pembayun tidak jadi dibawa dengan alasan tidak cukupnya ruang dan membutuhkan lebih banyak  pemain untuk menabuhnya.

Artikel Yang Mungkin Anda Suka

Download Aplikasi