Sosok RAA Kusumadiningrat di Mata R. Hanif Radinal

Reporter: Mohammad Aziz Pratomo - Editor: Mohammad Aziz Pratomo

Rabu, 13 Januari 2021 | 15:17 WIB

210114121619-Sosok.jpg

Source: Doc. 18News.id

Raden Hanif Radinal saat berdiskusi di Keraton Selagangga, Ciamis.*

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID, Ciamis – Kangjeng Prabu sebutan bagi Raden Adipati Aria Kusumadiningrat merupakan bupati Galuh yang keenambelas dan terkenal akan jasanya. Ia mempunyai ilmu yang tinggi dan merupakan bupati pertama di wilayah itu yang bisa membaca huruf latin. Memerintah dengan adil disertai dengan kecintaannya pada rakyat. Empat puluh tujuh tahun lamanya Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memimpin Galuh Ciamis (1839-1886).

Raden Adipati Aria Kusumadiningrat tinggal di kediaman rumah panggung kokoh yang berbahan dari kayu jati ukir yang disebut Keraton Selagangga, berlokasi di sebrang Situs Jambansari.

“Kanjeng Prabu dikenang sebagai bupati yang cakap, beliau menguasai bahasa inggris, prancis dan belanda. Dibawah pemerintahannya menjadikan Kabupaten Galuh sebagai daerah yang makmur,” ungkap R. Hanif Radinal, selaku wawali Kerajaan Galuh, saat berjumpa dengan tim 18news.id di Keraton Selagangga belum lama ini.

“Beliau membangun Gedung-gedung di pusat kota, Gedung DPRD, masjid Agung, Gedung Negara, tangsi prajurit, penjara, kantor pos, kantor telegram dan kantor sositeit,” tambahnya.

Beliau juga yang berhasil menghilangkan sistem tanam paksa di Kabupaten Galuh (Sekarang Kabupaten Ciamis), membangun irigasi, membuka pesawahan, mendirikan 3 pabrik penggiling kopi, membuka perkebunan kelapa, membangun jalan kawali-panjalu.

“Jembatan Cirahong misalnya, saat itu baliau berdiskusi dengan pemerintah Belanda agar membangun jembatan tersebut, karena beliau sangat diakui akhirnya terlaksana pembangunannya dan sampai saat ini jembatannya masih kokoh dan digunakan oleh masyarakat,” Ungkap Hanif dengan bangga.

Hanif juga menyampaikan jasa Kanjeng Prabu yang belum banyak dikenal orang seperti menjadikan bibit kelapa dan tikar sebagai mas kawin untuk menikah pada zamannya. Hal tersebut membuktikan bahwa kearifan lokal Kanjeng Prabu sangat menjunjung tinggi nilai kesejahteraan masyarakatnya.

“Kami trah keturunan Merasa prihatin dengan globaliasi, generasi muda yang kurang paham mengenai budaya, budaya itu merupakan jati diri bangsa, budaya bukan soal kerjaan dan sejarah saja, tapi merupakan tatanan kehidupan dan asset bangsa yang senantiasa harus kita jaga dan lestarikan,” tegas Hanif.

Hanif menyampaikan saat ini ciamis memiliki terobosan baru yaitu berkolaborasi dengan akademisi di Universitas Galuh, dengan memasukan mata kuliah sejarah tentang kerajaan Galuh.*

Komentar
Download Aplikasi
>