Bandung, Ibukota Republik Indonesia!

Reporter: Mohammad Aziz Pratomo - Editor: Hariyawan - Video Editor: Muhammad Firmanshah -

Selasa, 29 September 2020 | 13:03 WIB

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID,-- SEJARAH telah ditulis dalam puluhan, bahkan ribuan buku. Kadang-kadang dilakukan perbaikan bila ada revisi, untuk kemudian dicetak kembali.

Telah banyak cerita sejarah yang telah ditulis, kemudian mengabadi dalam ingatan orang-orang yang membacanya, orang-orang yang tentu saja tidak mengalami langsung peristiwa beresejarah yang ditulis dalam buku tersebut.

Kendati telah banyak kisah sejarah yang diabadikan dalam buku, toh saking banyaknya cerita unik yang layak dicatat, tidak sedikit pula peristiwa sejarah tersebur yang tercecer begitu saja dalam ingatan orang-orang. Beberapa di antaranya, akan 18news.id turunkan dalam beberapa tulisan secara berurutan. Tulisan pertama adalah peristiwa sejarah terkait Stasiun Kereta Api (KA) Bandung.

Bandung memang telah memiliki stasiun kereta api yang mulai beroperasi sejak 17 Mei 1884, bersamaan dengan peresmian jaringan KA Bandung-Batavia (Jakarta) lewat Bogor.  Tetapi, bangunan stasiun yang sampai sekarang masih berdiri adalah rancangan tahun 1928, yang khusus dirancang arsitek Belanda, EH de Roo, yang tidak lain dia juga membangun Gedung Sate, gedung pusat pemerintahan kolonial Belanda di Bandung.

Pada dekade 1920-an, Belanda hendak memindahkan ibu kota Pemerintah Hindia Belanda dari Jakarta ke Bandung, sehingga dibangunnya Stasiun Bandung ini.

Saat itu, pihak Belanda telah merencanakan pembangunan 14 kantor dan perumahan bagi 1.500 pegawainya.

Niat tersebut tidak sempat terpenuhi, karena pada tahun 1930-an Belanda mengalami krisis ekonomi. Kondisi keuangannya juga makin terpuruk, karena okupasi Nazi Jerman di masa Perang Dunia II. Karena itu, ibukota Indonesia tetap di Jakarta sampai sekarang. Bayangkan jika Belanda tidak mengalami krisis ekonomi, barangkali saat ini Ibukota Indonesia adalah Bandung!

Karakter Bangunan Era Kolonial

Karena dirancang oleh arsitek Belanda, walaupun kepindahan ibukota tidak jadi, kini masih tampak terlihat

karakter bangunan-bangunan era kolonial di Bandung dikerjakan sebagai bentuk premium keterampilan arsitektur bangunan zamannya. Bangunan dihiasi dengan jendela kaca patri dan mengundang para pengukir bong pay (kuburan orang Tionghoa).

Terasa luar biasa juga memahami sejumlah bangunan transportasi utama zaman itu, stasiun dan rel kereta api, yang dibiayai dengan amat mahal bermunculan di desa-desa kecil di sepanjang rute jalurnya. Dari Bandung ada stasiun-stasiun dan emplasemen, seperti Kiaracondong, Tanjungsari, Rancaekek, Cicalengka, Citiis, Lebakjero, Cimanuk, Cibatu, lalu Nagreg di titik tertinggi 848 meter di atas permukaan laut.

Selanjutnya, di Ciherang dan Cipeundeuy yang dikenal sebagai tempat istirahat kereta setelah melintasi jalur naik turun pegunungan, masih jelas bisa kita simak karakter bangunan-bangunan era kolonial. Ya, meskipun Ibukota Negara Indonesia tidak jadi pindah, jejak-jejak perencanaannya masih banyak terlihat dalam karakter bangunan era colonial Belanda, khususnya di Stasiun Bandung.*

 

Komentar
Download Aplikasi
>