Tasikmalaya Tempo Doeloe: Ingat Purwadaksi

Reporter: Mohammad Aziz Pratomo - Editor: Mohammad Aziz Pratomo

Selasa, 12 Januari 2021 | 11:43 WIB

210112123621-Tasik.jpeg

Komunitas Tasikmalaya Tempo Doeloe.*

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID, Tasikmalaya – Komunitas Tasikmalaya Tempo Doeloe (TTD) merupakan salah satu komunitas pegiat sejarah di Tasikmalaya, yang peduli dengan keselamatan situs cagar budaya yang kaya akan nilai sejarahnya.

“Komunitas TTD terbentuk dengan cara yang berbeda, yaitu melalui dunia maya. Bermula saat saya dan alm. Andri Setiawan saling bertukar informasi dan dokumentasi mengenai sejarah Tasik melalui surel dan facebook hingga akhirnya terbentuklah grup Tasikmalaya Tempo Doeloe,” Ungkap Asep Saepudin, selaku pendiri komunitas TTD saat dijumpai tim 18News.id belum lama ini.

Asep menyampaikan bahwa komunitas Tasikmalaya Tempo Doeloe ini berdiri sejak 11 Januari 2010 dan sampai saat ini jumlah anggotanya sudah mencapai angka 30 ribu lebih.

Dengan rasa penasaran tim 18News.id mencoba untuk melihat bagaimana kondisi grup facebook TTD, uniknya saat laman pengajuan anggota grup terpampang sebuah tulisan amanat Galunggung.

"hana nguni hana mangke - tan hana nguni tan hana mangke ;

aya mah baheula henteu teu ayeuna - henteu mah baheula henteu teu ayeuna;

hana tunggak hana watang - hana ma tunggulna aya tu catangna;

Hana matunggulna aya nu catangna."

Artinya:

Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini, bila tak ada masa silam takan ada masa kini;

Ada tonggak tentu ada batang, bila tak ada tonggak tak akan ada batang,

Bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Selain melestarikan situs cagar budaya, komunitas TTD sering bertukar dokumentasi yang dimiliki pada masa lalu. Doc. Komunitas Tasik Tempo Doeloe.

“tiada masa kini tanpa ada masa lalu, masa kini adalah peninggalan masa lalu,” tegas Asep.

Asep berharap pemerintah agar lebih memerhatikan situs cagar budaya yang ada di tasik, jangan sampai diabaikan begitu saja, karena generasi penerus kita sangat membutuhkannya.

“Ingat Purwadaksi.” Tutup Asep.*

Komentar
Download Aplikasi
>