Pahlawan Bencana: Sisipkan Edukasi Bencana dalam Dongeng

Reporter: Mohammad Aziz Pratomo - Editor: Mohammad Aziz Pratomo

Selasa, 26 Januari 2021 | 08:13 WIB

210126081953-Pahla.jpg

Source : Doc. Ig@pahlawanbencana

Ilustrasi - Komunitas Pahlawan bencana saat mendongeng edukasi bencana.*

Rectangle Bodytext (300x100)

18NEWS.ID,-- Bumi dan kehidupan di dalamnya tak luput dari ancaman bencana alam. Biasanya peristiwa yang menimpa suatu daerah mengakibatkan  timbulnya kerusakan lingkungan, psikologis, bahkan korban jiwa.

Pentingnya upaya pencegahan, persiapan, cara, infrastruktur, dan edukasi kepada masyarakat telah gencar dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat di Bandung. Pahlawan bencana merupakan salah satu komunitas yang bergerak dalam memberikan pengetahuan mitigasi bencana tersebut.

Di bawah naungan Yayasan Sadagori Indonesia, Komunitas Pahlawan Bencana membuat sebuah tim respons kedaruratan (Emergency Response) sebagai upaya mengurangi dampak bencana yang ada di masyarakat.

Ibrahim Amarusso, Ketua Komunitas Pahlawan Bencana mengatakan komunitas ini berawal dari sekelompok alumni pecinta alam di SMA 5 Bandung pada 2014. Seiring berkembangnya waktu  muncul sebuah  ide untuk memberikan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana. Melalui metode dongeng, para anggota Pahlawan Bencana memberikan pengetahuan khususnya kepada anak-anak yang tinggal di wilayah rawan bencana seperti bantaran sungai dan kaki gunung.

Doc. Ig@pahlawanbencana

Menurut Giordan melalui teknik menceritakan kisah atau dongeng, anak-anak lebih mudah menerima pengetahuan. Menurutnya fiksi mewakilkan gambaran besar suatu peristiwa agar mudah dipahami.

“Di sisi lain penting juga penggunaan budaya pop salah satunya dengan dongeng ini untuk mentranfser pengetahuan kepada anak-anak,” ujarnya. Komunitas Pahlawan menjelaskan alasan penamaan komunitas ini dan mengapa mereka berfokus pada anak-anak. Menurut sebuah lembaga yang kebencanaan di Jepang, kata dia, terdapat tiga kelompok rawan bencana, yaitu lansia, disabilitas, dan anak-anak.

“Jadi, yang diharapkan menjadi pahlawan bencana itu bukan kami, tetapi anak-anak yang kami edukasi dan diberikan materi,” ucapnya. Dongeng yang disampaikan, kata Gordan, juga bukan hanya membahas mengenai bencana. Namun juga dilengkapi dengan aktivitas atau kegiatan, sebab, ketika bencana melanda suatu daerah banyak sekali layanan sosial terhenti.

“Anak-anak tidak sekolah, komunikasi sulit diakses, tempat berkumpul sangat terbatas. Nah, pahlawan bencana membantu kegiatan-kegiatan,” ucapnya. Selain itu salah satu program yang terus gencar dilakukan oleh komunitas, yaitu “Tas siaga” yang merupakan  wadah  untuk mempersiapkan kebutuhan pribadi seperti makanan, logistik, dan perlengkapan lainnya ketika bencana datang.

Komunitas Pahlawan Bencana berharap agar masyarakat Indonesia memiliki sikap siap siaga terhadap bencana dan menyadari bahwa bencana bukan suatu hal yang jarang dialami.*

Komentar
Download Aplikasi
>